Catatan Ramadhan 2014 M

Catatan Abadi di Bulan Suci :

  1. Semenjak reformasi di negeri ini umat Islam dihadapkan pada pilihan memulai puasa ramadhan. Bulan Ramadhan tahun ini (2014 M / 1435 H) di Indonesia dimulai pada hari sabtu, tanggal 28 Juni 2014 oleh warga Muhammadiyah dan pada hari minggu, tanggal 29 Juni 2014 oleh Pemerintah dan warga NU. Sebenarnya mudah saja kita memilihnya : (1) Bagi umat Islam yang tidak menjadi warga Muhammadiyah dan tidak menjadi warga NU maka ikutilah pemerintah (2) Bagi warga NU maka ikutilah titah kiayi NU (3) Bagi warga Muhammadiyah maka ikutilah titah kiayi Muhammadiyah. Anda menjadi bingung karena anda : (a) Ingin menyatukan semuanya, sementara anda tidak punya power yang memadai (b) Tidak punya komunitas atau majelis taklim atau tidak punya jamaah yang dapat mengarahkan anda (c) Mungkin anda tidak konsisten.
  2. Masjid harus punya muadzin dan imam yang tetap agar pelaksanaan ibadah shalat tarawih serta ceramah kultumnya menjadi lebih tertib jadwalnya dan materi kultumnya. (1) Masing-masing penceramah diberi tema yang berbeda agar tidak terjadi pengulangan materi dan agar materinya lebih lengkap. Waktu yang singkat harus dikelola secara cermat. (2) Tugas muadzin menjaga waktu shalat yang tepat, tidak molor dan tidak terlambat. Tugas imam memimpin shalat yang khusyuk. Muadzin mengumandangkan adzan saat waktu shalat telah tiba (awal waktu) tanpa diperintah oleh siapapun kecuali oleh Allah dan oleh tanggungjawabnya sebagai muadzin tetap. Muadzin mengumandangkan iqamah menunggu perintah imam atau menunggu timer yang ada (jam penunjuk waktu untuk memulai iqamah). (3) Jangan sampai terjadi tidak ada muadzin tetap, tidak ada imam tetap, dan tidak ada penceramah yang berdisiplin, berakibat menjadikan jamaah shalat isya dan tarawih ada yang dirugikan, misalnya ada seorang jamaah yang sedang melakukan shalat sunnah (shalat tahiyatul masjid dan atau shalat rawatib) diantara adzan dan iqamah menjadi terganggu atau hilang kesempatannya, gara-gara iqamahnya mengikuti pasar bebas (waktu yang tidak jelas yang tidak diketahui oleh para jamaahnya). Perlu ditegaskan bahwa yang mengumandangkan adzan dan iqamah biarlah orang yang sama (bukan wajib dan tidak ada larangannya), dan biarlah iqamah dikumandangkan menunggu perintah imam. (4) Jika tidak ada imam maka yang menjadi imam adalah yang berani mengumandangkan iqamah. Berani ber-iqamah harus berani menjadi imam, bersedia ber-iqamah harus bersedia pula menjadi imam, mampu ber-iqamah harus mampu pula menjadi imam, karena lafadz iqamah adalah mengajak untuk segera memulai dan mendirikan shalat, sehingga jika tidak ada imam berarti dirinyalah yang bersedia untuk memimpinnya (memimpin shalat). Itulah mengapa muadzin dan imam tetap harus ada di setiap masjid, jangan sampai terjadi punya bus kota tidak punya sopir dan kondikturnya. Manajemen masjid harus lebih baik daripada manajemen bus kota.
  3. Membawa anak-anak (anak kecil) untuk shalat dibolehkan, karena Rasulullah pun pernah shalat dan ketika sedang sujud punggungnya dinaiki oleh cucunya. Namun tidak dijelaskan apakah shalatnya di rumah atau di masjid. (1) Jika dilakukan di rumah sendiri, maka bebas membawa anak-anak (bahkan tidak perlu dibawa mereka sudah ada di dekat kita) (2) Namun jika harus diajak ke masjid maka diupayakan anak-anak sudah bisa mengatur kebersihan dirinya sendiri (suci hadatsnya), misalnya bisa pipis sendiri ke luar masjid. Jangan sampai anak kecil yang pipis sembarangan (dan itu tidak salah) menjadikan shalat jamaah lainnya (orang lain yang banyak) menjadi batal karena najisnya (air kencingnya). (3) Betapa merepotkan banyak orang jika karpet dan sajadah orang lain terkena air kencing anak-anak kita, berapa lama karpet harus dicuci dan dijemur hanya karena terkena air kencing anak-anak kita? Maka disarankan anak-anak kecil yang diajak ke masjid, jika belum bisa mengatur tentang waktu kencingnya (memang belum saatnya tahu misal usia sampai 3 tahun, atau sedang sakit perut) mohon benar-benar diperhatikan dengan baik, misalnya diberi pempers yang tebal. Masjid adalah tempat yang baik untuk dikunjungi umat-Nya, namun untuk shalat dan bukan untuk membatalkan shalat, terlebih karena kelalaian kita para orang dewasa (yakni orangtuanya). Niat yang baik harus diikuti cara yang baik pula.
  4. Shaf shalat laki-laki dan perempuan harus sesuai dengan sunnah Rasulullah, yaitu yang laki-laki di depan dan dimulai dari baris paling depan, sedangkan yang perempuan di belakang dan dimulai dari baris paling belakang. Peristiwa ini sering terjadi dan dialami oleh kaum perempuan yang dinistakan oleh takmir masjid yang laki-laki, ketika mereka (kaum perempuan) sudah tertib mengikuti sunnah Rasulullah duduk di paling belakang malah disuruh maju untuk duduk di depan (walau masih di dalam shafnya kaum perempuan), peristiwa tersebut sering terjadi ketika berjamaah shalat ied dan shalat tarawih. Para takmir harus menguasai manajemen Islami, bukan manajemen kafir. Kesempurnaan shalat dimulai dari kesempurnaan shafnya.
  5. Allah yang kita sembah sama, baik di bulan ramadhan maupun di bulan lainnya, maka : (1) Perilaku baik kita di bulan ramadhan mohon dipertahankan, setidaknya untuk shalat wajib bisa selalu di awal waktu (mendapatkan ridha Allah) dan selalu berjamaah (pahalanya dilipatkan 27) di masjid (banyak berkahnya), karena masjid adalah tempat di muka bumi yang paling disukai oleh Allah. (2) Jangan berharap Allah mau datang ke rumah kita jika kita tidak pernah mau datang ke rumah Allah. Jangan berharap Allah akan sering ke rumah kita jika kita tidak sering datang ke rumah Allah. (3) Dengan shalat di masjid maka kesempatan meraup pahala semakin tinggi, yakni (a) dimulai dari banyaknya langkah kaki kiri dan kanan kita masing-masing ada keutamaanya (b) bisa shalat tahiyatul masjid (c) shalat rawatib sunnah muakkad. (4) Untuk shalat yang terbaik dilakukan di rumah adalah shalat sunnah, dan shalat sunnah yang dilakukan di rumah menjadikan rumah bercahaya dan tidak seperti kuburan.
  6. Jika karpet atau lantai masjid kotor dan ketika sujud kita terganggu (karena baunya atau karena kotornya), maka lakukanlah upaya : (1) Membawa sajadah sendiri (2) Memberi infak yang memadai jangan bakhil (3) Menjadi panitia masjid (takmir masjid) yang bisa menjadi bukti dan bakti suri teladan, jangan hanya berkeluh kesah saja.
  7. Melaksanakan yang sunnah berupa makan saur bisa tertib dan tepat waktu, tetapi mendirikan shalat shubuh yang diwajibkan oleh Allah swt malah terlambat bahkan kesiangan, merupakan perbuatan yang sulit dipahami oleh hati yang bersih, dan sulit dimengerti oleh akal sehat.
  8. Sunnah menyegerakan berbuka puasa dilaksanakan dengan tertib, namun bersegera shalat wajib maghrib malah diabaikan. Orang yang seperti itu belum bisa membedakan makna berbuka puasa dengan makan (makan besar) berbuka puasa. Jika sekedar berbuka puasa bisa hanya sekedar dengan satu butir kurma saja atau minum air putih segelas saja sudah sah, tetapi jika harus makan besar (makan nasi dan lauk pauk yang lengkap) itu sudah mengabaikan arti pentingnya shalat awal waktu di saat shalat maghrib. Di sinilah cobaan dan gangguan setan ketika orang sedang berbuka puasa. Sekali lagi bahwa hukum menyegerakan berbuka puasa adalah sunnah, sedangkan hukum shalat maghrib adalah wajib (fardhu ‘ain).

Mohon maaf jika tidak berkenan, dan semoga ada manfaatnya…aamiin.

Wallahu’alam bisshawab.

Yogyakarta, Kamis, 3 Juli 2014

Abu Faqih Abdulghani

HP : 085 643 383838

Categories: Artikel | Leave a comment

Sang Motivator itu Muadzin

Bangun selalu pagi
Memanggil orang untuk bangkit dari tidurnya
Melangkah ke sebuah tempat yang paling mulia
Tahajjud dini hari, subuh, dan menjemput rezeki dhuha di pagi hari

.

Selalu mengingatkan
Tuk rehat sembari dzikir dzuhur di tengah kesibukan di siang hari

.

Senantiasa mengisyaratkan
Tuk akhiri rutinitas menyambut  ashar hari ini di sore hari

.

Rutin mengajak
Shalat maghrib bagi semua
Senantiasa berdoa atas segenap karunia-Nya

.

Gema malam
Mengajak shalat isya sebagai evaluasi diri
Menjelang tidur menyiapkan aktifitas esok hari sejak dini hari

.

Adzan adalah panggilan Tuhan
Muadzin adalah sang motivator pilihan

.

Semangat dalam rutinitas
Lebih awal dari yang lainnya

.

Senantiasa menyeru walau terkadang tak didengar
Pantang menyerah selalu bersabar
Kumandangkan takbir Allahu Akbar

.

Tidak hingar bingar
Tidak pelan tak terdengar
Lantang, merdu, syahdu menyentuh qalbu

.

Shalat di awal waktu adalah ridha Tuhan
Berjama’ah bersama penuh harapan
Melangkah ke masjid sebaik-baik tempat orang beriman
Bersilaturahmi, berikhtiar, bertebaran tuk meraih kemenangan

.

Yogyakarta, senin, 22 juli 2013

.

Teguh Sunaryo

.

M : 085 643 383838

.

Categories: Kultum | Leave a comment

Suara Adzan

Terlalu keras tidak boleh
Hingar bingar apalagi

.

Terlalu pelan tidak dianjurkan
Keras, merdu dan indah seperti Bilal itu yang diharapkan

 .

Kumandang adzan adalah ajaran agama
Mendendangkan Lagu itu hal lainnya
Tentu ada perbedaan penghahayatannya

.

Mengagungkan asma Allah “Allahu Akbar”
Mengingat syahadat
Memanggil untuk shalat
Mengajak untuk menang
Menyatakan “harus bangkit dari tidur”
Berjihad cinta Allah karena “laa ilaaha illallah”

.

Adzan bukan sekedar panggilan muadzin tercinta
Adzan merupakan panggilan Allah yang paling sempurna
Sering dipanggil saja kita kerap lupa terlebih jika dibiarkannya
Ingatlah wahai manusia saat Allah masih mengedepankan rahmat-Nya dari pada murka-Nya

.

Shalat di awal waktu adalah ridha-Ku
Shalat di akhir waktu adalah pengampunan-Ku
Shalat di masjid saat masih bisa melangkah
Shalat berjama’ah penuh barokah…aamiin.

.

Yogyakarta, sabtu, 20 juli 2013

.

Teguh Sunaryo (Abu Faqih Abdulghani)

.

M : 085 643 383838

Categories: Kultum | Leave a comment

Hakikat Adzan

Gema takbir “Allahu Akbar”
Kumandang tauhid
Komitmen syahadat
Mendirikan shalat
Menjadi beruntung, meraih kemenangan, mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat

.

Lakukan jika “mau”
Yakini jika sudah tahu

.

Gunakan telinga untuk mendengar yang baik dan penuh makna terlebih bagi agama
Optimalkan mulut bersuara yang indah dalam bingkai kebenaran semata
Getarkan qalbu menghayati kata yang terdengar sampai telinga

.

Ucapkan kata tuk mengajak kebaikan yang telah tertata sejak dulu kala
Agendakan kegiatan dunia, belajar, kerja dan pesta sesuai jadwal adzan panggilan mulia
Isi hidupmu antara satu adzan menuju adzan berikutnya penuh makna dan pahala

.

Jangan terlena
Setelah adzan mendirikan shalat di awal waktu segera
Jangan ditunda
Tuk bersujud menyembah-Nya

.

Yogyakarta, sabtu, 20 juli 2013

.

Teguh Sunaryo (Abu Faqih Abdulghani)

.

M : 085 643 383838

Categories: Kultum | Leave a comment

Substansi Adzan

Pengantar :

Banyak orang menduga bahwa adzan adalah sekedar sebagai tanda waktu masuk shalat saja. Sebagian lainnya mengartikan adzan sebagai seruan atau perintah mendirikan shalat wajib lima waktu untuk umat Islam yang telah memenuhi persyaratannya.

Definisi :

Arti harafiahnya i’lam yaitu pengumuman atau pemberitahuan, yaitu pemberitahuan tentang datangnya waktu shalat. Makna lengkapnya adalah sebagai seruan Allah melalui muadzin untuk umat Islam bahwa telah datang waktunya shalat wajib dan rekomitmen pembaharuan bersyahadat,  serta ajakan untuk segera mendirikan shalat menuju ke kemenangan.

Fakta :

Kebanyakan umat (tidak semuanya), Adzan hanya didengar dan berlalu begitu saja, dijawab juga tidak, apalagi segera ditindaklanjuti. Adzan dikalahkan dengan kesibukan kerja di kantor, sibuk ngajar dan belajar, sibuk kesawah dan ke kebun, sibuk berbisnis dan santai mengobrol kesana-kemari.

Hukumnya :

Ada yang berpendapat sunnah muakkad, ada yang mengatakan fardhu kifayah, ada juga yang berpandangan sebagai sunnah muakkad khusus, dan ada pula yang berpendapat fardhu kifayah khusus.

Dalil Agama :

“Apabila tiba waktu sembahyang hendaklah salah seorang kamu melakukan adzan, dan yang lebih tua daripada kamu hendaklah menjadi imam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalil Psikologi :

Jika adzan diartikan sebagai perintah shalat maka kesannya akan memberatkan, namun jika adzan dimaknai sebagai ajakan untuk menjadi pemenang maka kesannya akan lebih ringan untuk dilaksanakan. Siapasih orangnya yang tidak ingin menang dalam menjalani hidup ini ?

Dalil Akal :

Sebagai bawahan, saat kita dipanggil oleh atasan atau pimpinan ditempat kita bekerja, maka kita segera taat dan bergegas memenuhi panggilannya, sehingga ketika kita diseru oleh Allah mengapa kita tidak segera memenuhi panggilan-Nya ?

Dalil Rasa :

Ketika kita memanggil anak atau teman kita, sementara mereka tidak menghiraukannya betapa tersinggungnya kita. Begitu pula Allah yang telah berkali-kali mengundang kita untuk shalat namun kita mengabaikannya, sudah siapkah jika kita mendapatkan murka dan laknat-Nya ?

Suara Keras :

Suara adzan yang keras dan indah (merdu seperti Bilal) boleh. Sedangkan suara adzan yang terlalu keras dan terlalu pelan, apalagi suara hingar bingar sangatlah tidak dibolehkan. Kumandang adzan sangatlah singkat, tidak terlalu lama jika harus dibandingkan dengan lamanya waktu didendangkannya rerata lagu pada umumnya.

Persepsi yang keliru :

(1) Adzan adalah panggilan dari muadzin bukan dari Allah (Tidak ada perintah Allah yang datang langsung kepada manusia yang bukan pilihan seperti Nabi dan Rasul). (2) Shalat tidak harus awal waktu, yang penting masih tepat waktu (standar minimalis, bukan maksimalis). (3) Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang (disalahgunakan)

Kesimpulan positif :

(1) Kita tidak pernah mengerti kapan nyawa kita akan dicabut oleh Allah, mengapa shalat harus ditunda? (2) Selama bisa maksimal mengapa memilih yang minimal? (3) Jika kita punya masalah kemudian berdo’a minta segera dikabulkan oleh Allah, namun megapa saat kita diseru Allah malah menunda dan mengabaikannya? (4) Ayo, jika kita mendengar adzan mulai sekarang segera berwudhu dan segera mendirikan shalat berjama’ah di awal waktu bersama saudara-saudara tercinta. (5) Jika kita ingin meminta lebih dari Allah maka kita juga harus mau memberi lebih kepada Allah. Jika kita ingin diistimewakan oleh Allah maka kita juga harus bisa mengistimewakan Allah. Itulah prinsip kehati-hatian yang relative adil dari seorang makhluk kepada khaliknya.

Kesimpulan negatif :

Kalau kita tidak mau mengerti tentang apa dan bagaimananya segala sesuatu yang ada disekitar kita (termasuk keberadaan adzan dan konsekuensinya), maka jangan pernah sakit hati dan mudah menyalahkan pihak lain jika “mereka-pun” atau “ia-pun” pada saatnya nanti menjadi tidak peduli kepada kita. Jika kita tidak mendengar suara Allah, maka wajar jika Allah-pun tidak mau mendengar suara kita. Aksi sama dengan reaksi, pahala seseorang berbanding lurus dengan amalannya. Energi itu kekal, dan energi itu satu tidak bisa diciptakan dan tidak bisa dimusnahkan, hanya berbubah bentuk, jika energi yang kita lepas negatif maka sebagai gantinya juga akan negatif, dan jika energi yang kita pancarkan itu positif maka sebagai gantinya juga akan positif. Masihkah meragukan akan seruan adzan ? Tindakanlah jawabannya.

Mohon maaf jika tidak berkenan, semoga bermanfaat, salam sukses selalu. Terimakasih.

Yogyakarta, Rabu, 26 Juni 2013

Teguh Sunaryo (Abu Faqih Abdulghani)

M : 085 643 3383838

Categories: Artikel | Leave a comment

Dari Lahir Sampai Mati

Fakta :

Saat lahir bayi menangis dan saat mati orang di sekitarnya yang menangis. Saat lahir kita tidak pernah meminta dan saat matipun tidak ada pilihannya. Itu semua fakta yang terjadi, yang kita semua tak kuasa untuk sekedar mediskusikannya terlebih untuk melawannya. Namun ada rasa bahagia saat dimana kita pernah mendapatkan nikmat berupa kesehatan, kekayaan, kebaikan dan keselamatan.

Mengisi waktu menunggu ajal tiba :

Perasaan yang samapun terjadi pada orang lainnya (sesama), dimana merekapun pernah merasa bahagia saat mendapatkan nikmat berupa kesehatan, kekayaan, kebaikan dan keselamatan. Mereka sedih jiika orang disekitarnya tidak ada satupun yang baik pada dirinya, tidak peduli padanya. Ia juga merasa menderita saat keselamatnnya terancam. Disinilah peran kita saat menunggu ajal tiba yaitu memberikan kebaikan sejauh yang kita bisa dan membantu keselamatan sejauh kemampuan yang ada kepada sesama, sebagai mana kita juga berharap dari mereka terhadap hal yang sama.

Kebaikan :

Berlombalah dalam kebaikan seberapun besarnya dan apapun bentuknya. Sebaik-baik umat adalah yang paling banyak manfaatnya bagi umat yang lainnya, dan sebaik-baik manfaat adalah menyajikan karya setinggi-tingginya apapun bidangnya. Menurut teori Howard Gardner ada delapan bidang bakat atau kecerdasan atau potensi seseorang yang bisa dikembangkan agar seseorang memiliki prestasi yang tinggi dalam mempersembahkan kebaikan yang dicita-citakan. Teori tersebut disebut Multiple Intelligence yang meliputi : (1) Word smart, (2) Logic smart, (3) Self smart, (4) People smart, (5) Picture smart, (6) Body smart, (7) Music smart, (8) Nature smart, kesemuanya bisa dikenali dan diketahui melalui Digital Graphic Identiity (DGI) berupa tes bakat sidikjari DMI.

Keselamatan :

Saat orang terancam maka ia membutuhkan keselamatan, dan saat orang selamat maka ia akan bahagia. Keselamatan bagi sesama  bisa diikhtiarkan melalui hati yang gemar menolong dalam melepaskan kesulitan hidup dan beban penderitaan. Berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Jangan mencubit jika tak mau dicubit.

Mohon maaf jika tidak berkenan, semoga bermanfaat, salam sukses selalu. Terimakasih.

Yogyakarta, Minggu, 23 Juni 2013

Teguh Sunaryo

M : 085 643 3383838

Categories: Kultum | Leave a comment

Agama Tidak Bisa Didebatkan ?

Hanya dzat Tuhan yang tidak boleh didebatkan :

(1) Bagi orang yang mantap keimanannya dan bagi orang yang mantap kekafirannya maka debat tentang agama tidak lagi diperlukan, karena kewajiban mereka tinggal melaksanakannya saja (secara konsekuen dan sportif) apa yang telah menjadi keyakinannya. (2) Namun bagi orang yang tidak bisa berdebat maka perihal apapun yang akan didiskusikan ia tidak bakal mampu, bahkan alergi, apalagi tentang tema keagamaan. (3) Bagi orang yang ingin mencari kebenaran religi yang imannya belum mantap, maka dengan berdebat ia akan menjadi lebih mantap, sehingga beragama tidak hanya sebagai keturunan belaka atau hanya sekedar dogma belaka. (4) Bagi orang yang kekafirannya belum mantap maka bisa merenung ulang apakah jalan hidupnya selama ini sudah final atau masih bisa berubah menjadi orang yang beriman atau malah menjadi kafir sekalian yang tidaklah tanggung-tanggung dengan faham, segenap resiko dan konsekuensinya. (5) Agama dan Tuhan adalah dua hal yang berbeda walau saling berhubungan erat. Hal yang sepele saja boleh didebatkan kok masalah agama tidak boleh, tetapi sekali lagi untuk urusan dzat Tuhan tidak (makhluk tidak pernah bisa mengetahui khaliknya).

Tujuan berdebat (diskusi yang hangat, bukan panas lho) :

Menjalin komunikasi antar manusia secara santun dan cerdas, dengan tujuan untuk memantapkan keimanan seseorang agar dalam menjalankan keimanannya masing-masing tidak tanggung-tanggung (kaffah, total) dan agar bisa saling menghormati antar sesama manusia, tidak melakukan perbuatan yang melampaui batas serta tidak membuat kerusakan di muka bumi.

Komunikasi dan demokrasi :

Menjalin komunikasi adalah hakikat manusia sebagai makhluk social. Tidak ada interaksi antar manusia yang tidak diikuti dengan komunikasi, debat adalah bagian dari cara berkomunikasi. Memang banyak debat dilakukan dengan cara yang tidak sopan. Dengan debat tentang agama inilah kita diwajibkan melakukannya dengan cara yang santun. Bagaimana mungkin orang yang merasa punya agama kok malah melakukan debat dengan cara yang tidak santun ? Jika itu yang terjadi maka ada dua hal yang patut dipertanyakan : Pertama, orangnya yang gagal menghayati keimanannya atau, kedua, ajaran agamanya yang tidak mendatangkan rahmat bagi para pemeluknya.

Berdemokrasi adalah suatu pilihan dalam hidup bernegara dimana rakyatnya majemuk suku bangsanya, dan beragam keberagamaanya. Demokrasi adalah bagian dari cara aktualisasi membangun komunikasi dalam bernegara. Selama suatu Negara memilih cara berdemokrasi dalam pelaksanaan kenegaraannya, maka menjadi hal yang wajar jika akan terjadi perbedaan dalam banyak hal termasuk dalam memilih agama bagi diri dan keluarganya.

Berikut debat antara Periba bin Human-Perila, Agam bin Iman-Takhafal, dan Agam bin Iman-Hafal, yang dilakukan secara sopan dan santun :

Periba bin Human-Perila : Hidup kok susah ya, harus bekerja, harus bertanggungjawab dan harus menjadi orang yang baik…

Agam bin Iman-Takhafal : Ya memang harus begitu kan ? Apa anda mau hidup menjadi pengangguran atau menjadi orang yang buruk seperti para koruptor itu ?

Periba bin Human-Perila : Ya tidak…tapi kok ya susah, gitu lho …

Agam bin Iman-Hafal : Dinikmati saja mas…

Periba bin Human-Perila : Gimana bisa menikmati kalau untuk makan sehari-hari saja masih susah. Istri harus diberi makan dan pakaian, dan anak-anak harus bersekolah.

Agam bin Iman-Takhafal : Gimana mas, kalau makannya tidak harus yang mahal, sekolahnya tidak harus yang jauh dan yang muuuuahal itu. Sekolah yang mahal juga tidak ada jaminan sukses kan ?

Periba bin Human-Perila : Betul juga saranmu mas. Coba besok saya akan sampaikan kepada istri dan anak saya, semoga mereka mau. Selama ini tuntutan mereka terlalu tinggi bagi kemampuan kami.

Esok hari : (hari kedua) :

Periba bin Human-Perila : Wah, anak istri saya tidak bersepakat dengan gagasan itu mas. Kata mereka saya harus berjuang dan bekerja lebih keras lagi agar bisa sukses.

Agam bin Iman-Takhafal : Lha…benar kan ? Apa kamu sudah bosan berjuang ? Apa ada suami lain yang hidupnya tidak berjuang untuk keluarganya ?

Periba bin Human-Perila : Ada mas…banyak suami yang nganggur dan istrinya bekerja tuh…

 Agam bin Iman-Hafal : Wah…kalau di agamaku tidak boleh itu, suami adalah kepala keluarga dan wajib (lebih dari sekedar harus) untuk mencari nafkah.

Agam bin Iman-Takhafal : Kalau di agamaku ada kesetaraan gender, maka suami dan istri sebaiknya sama-sama bekerja untuk mempertahankan keluarganya.

Periba bin Human-Perila : Agama itu apa sih ? Emang kalau kita susah jadi bisa senang ? Menurutku tuh hidup sudah cukup berdasarkan petuah dari nenek moyang kita saja, coba perhatikan peribahasa-peribahasa nenek moyang kita sudah sangat arif dan bijaksana, misalkan : “jangan mencubit kalau tak ingin dicubit”, bahwa kita jangan suka menyakiti orang lain. “Ringan sama dijinjing dan berat sama dipikul”, bahwa kita harus bisa saling kerjasama, dst.

Agam bin Iman-Takhafal : Lha, kalau menurutmu peribahasa sudah cukup bisa mengarahkan hidupmu, mengapa kamu masih merasa susah dan berkeluh kesah ?

Periba bin Human-Perila : Mungkin ada saran untukku ?

Agam bin Iman-Hafal : Kalau begitu ikuti saja saran dari nenek moyangmu (pemilik peribahasa) yang mengatakan “berakit-rakit ke hulu berenang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian”, “dikit-dikit lama-lama menjadi bukit”. Nah itu kan artinya harus berikhtiar (berjuang) dan sabar.

Periba bin Human-Perila : Benar juga ya, tapi kok tetap berat ya? (bergumam dalam hati). OK…tapi apa kamu sendiri nggak pernah hidup susah ? Terus bagaimana cara kamu mengatasi rasa gundah itu ?

Agam bin Iman-Hafal : Kalau saya ya ikhlas saya pasrahkan pada Allah.

Agam bin Iman-Takhafal : Saya juga saya serahkan pada Tuhan.

Periba bin Human-Perila : Lha kalian berdua, saling beriman tetapi mengapa masih beda agama, apakah Tuhan bagi kalian sama atau beda ? Kalau Tuhannya sama mengapa mesti ada dua agama, lantas agama mana yang lebih baik ? Dan kalau Tuhannya berbeda mengapa mesti ada dua Tuhan, lantas yang baik Tuhan yang mana ? (Kemudian Agam bin Iman-Hafal dan Agam bin Iman-Takhafal diam dan saling memandang). Dan mohon dijawab, apakah kalau permasalahan hidup diserahkan pada Tuhan maka akan bisa diselesaikan ?

Agam bin Iman-Takhafal : Saya punya Tuhan, dan kamu punya nenek moyang. Apakah nenek moyangmu juga bisa menyelesaikan persoalan hidupmu ? Nah, andaikata sama-sama tidak bisa menyelesaikan persoalan hidup, namun lebih baik Tuhan saya dari pada nenek moyangmu. Dalam keyakinanku, nenek moyangmu adalah ciptaan dari Tuhanku, sedangkan dalam keyakinanmu belum pernah ada pernyataan bahwa Tuhanku adalah ciptaan dari nenek moyangmu. (Periba bin Human-Perila sedikit agak tersinggung, namun sangat bisa menguasai emosinya).

Agam bin Iman-Hafal : Kalau menurut saya, semua orang akan meninggal dunia (mati), yang punya persoalan hidup akan mati dan yang merasa tidak punya persoalan hidup juga akan mati. Sama-sama bakal mati, maka saya memilih untuk mempunyai agama yang mengajarkan bahwa neraka dan surga itu ada, jadi sportif, yang tabah menghadapi masalah dan diselesaikan dengan cara yang baik maka ia akan masuk ke surga, sedangkan yang tidak tabah, tidak sabar dan berperilaku tidak jujur, tidak baik maka akan dimasukkan ke dalam neraka. Jadi saya merasa lebih tenang jika menghadapi permasalahan dunia. Sedangkan agama saya mengajarkan bahwa : “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku”, maka sangat demokratis, silahkan dipilih tanpa ada paksaan. Jadi substansinya adalah (1) lebih tenang karena ada sandaran hidup, (2) sportif karena harus mempertanggungjawabkan perilaku selama hidup (3) demokratis, karena antar kita (antar manusia) tidak boleh ada paksaan dalam memilih suatu agama.

Periba bin Human-Perila : Kalau mendengar jawaban kalian berdua, saya kok lebih cocok dengan jawabannya mas Agam bin Iman-Hafal. Bararti saya boleh kan untuk tidak memilih agamamu ?

Agam bin Iman-Hafal : Boleh tetapi ada konsekuensinya kan ?

Agam bin Iman-Takhafal : Dalam agamaku, juga dibolehkan untuk memilih semua agama yang ada di dunia ini, karena Tuhan sangat cinta kasih pada hamba-Nya walau dia berdosa asalkan bertaubat.

Periba bin Human-Perila : Lho, tapi kok kitab sucinya berbeda ?

Agam bin Iman-Hafal : Iya, memang berbeda. Dalam agamaku kitab sucinya bisa dihafalkan oleh manusia, sedangkan dalam agama lainnya belum pernah ada yang bisa dihafalkan oleh penganutnya.

Agam bin Iman-Takhafal : Cuma bisa dihafal saja kok dipersoalkan, yang penting kan perilakunya baik bagi sesama.

Agam bin Iman-Hafal : Dalam agamaku, perilaku itu juga penting dan kitab suci tidak boleh diabaikan karena menyangkut keimanan. Iman seseorang tidak akan diterima oleh Allah jika tanpa amal saleh, dan amal saleh tidak akan diterima oleh Allah tanpa iman. Jangan pernah menyepelekan (meremehkan, mengarti-kecilkan) hafalan. Coba bayangkan (1) jika anda saat sekolah tidak hafal rumus matematika, dan rumus fisika, pasti kamu tidak akan naik kelas. (2) Tidak hafal angka dan tidak hafal huruf, bagaimana kamu akan berkomunikasi dengan orang lain ? Dan coba bayangkan bagaimana peradaban dan kemajuan dunia pengetahuan jika kita tidak hafal angka dan tidak hafal huruf ? (3) Dan jika kamu tidak hafal jalan maka kamu akan kesasar tidak sampai tujuan, bisa saja kamu membawa peta tetapi akan lebih repot sedangkan yang hafal jalan tidak perlu repot membawa peta dan lebih cepat sampai tujuan.

Periba bin Human-Perila : Yang penting kan sampai tujuan ?

Agam bin Iman-Takhafal : Betul.

Agam bin Iman-Hafal : Kalau yang penting sampai tujuan, nanti bisa menghalakan segala cara, dan itu berbahaya bagi sesama manusia itu sendiri.

Periba bin Human-Perila : Kok makin muter-muter mas ?

Agam bin Iman-Takhafal : Iya…

Agam bin Iman-Hafal : Begini maksud saya. Dalam agama saya, manusia itu diwajibkan menunut ilmu sepanjang hayat. Dalam belajar (untuk menuntut ilmu) ada tahapan yang harus dilaluinya antara lain (1) Tahap keimanan, yaitu percaya dulu bahwa ilmu yang akan dipelajari itu pasti bermanfaat, baik itu ilmu agama maupun ilmu dunia. (2) Tahap hafalan. Bagian-bagian dasar ilmu tersebut – yang jelas-jelas tidak berubah dan mendasar –  harus dihafalkan agar tidak dipalsukan dan dipermainkan (diubah-ubah semaunya) oleh para pihak yang tidak betanggungjawab. Nah, Kitab Suci agama kami benar-benar terjaga kesuciannya, lurus dan tidak berubah-ubah. Coba bayangkan jika main catur aturan mainnya berubah-ubah jadi makin sulit kan ? Silahkan tunjukkan bukti Kitab Suci agama apa yang bisa dihafalkan ? Jadi kalau ada kitab suci agama apapun bisa dihafalkan oleh pemeluknya itu ada dua kemungkinan yang terbaik (kemungkinan terjelek tidak ada, sebagaimana hafalnya angka dan huruf, serta jalan yang dibutuhkan) yaitu : (a) Kitab Sucinya pasti hebat, karena yang lain tidak bisa dihafal, sementara ia (kitab tersebut) dapat dihafal. Itu menggambarkan dua kemungkinan pertama ada mukjizat dari Allah untuk melindungi dari pemalsuan kitab-Nya, dan yang kedua karena rangkain katanya sangat tersusun rapih dan logis sehingga memberikan kumudahan ummatnya untuk menghafal, antara otak dan huruf atau kalimatnya sangat matching. (b) Umat-Nya sangat terpilih dan mengagumkan. Betapa rasa cinta (salah satu aspek keimanan) umat-Nya pada kitab suci tersebut (yang bisa dihafalkan) sangat tinggi. Ini berarti umat agama lain tidak punya rasa cinta yang lebih tinggi pada kitab sucinya. Dan metoda yang benar untuk urusan hafal menghafal ini haruslah (i) membandingkan antar kitab sucinya dan (ii) membandingkan loyalitas umat-Nya kepada kitab sucinya. Mana yang lebih hebat menurut anda ? (3) Tahap pemahaman, yaitu tahap mencerna dan menganalisa kandungan ilmu yang dicari tersebut (dalam konteks ilmu agama adalah kandungan kitab sucinya). (4) Tahap amalan, yaitu tahap mengimplementasikan (action) ilmu tersebut (mengamalkan teori dan keyakinannya, dalam bahasa agama saya adalah menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya – amar ma’ruf nahi mungkar). Sehingga jika ada yang tidak beres bisa dilacak dimana errornya, apakah pada (1) tahap iman, pada (2) tahap hafal, pada (3) tahap pemahaman, atau pada (4) tahap amalan (actionnya). Idealnya keempat tahap itu harus dicoba dilalui telebih dahulu. Sekarang ini kenyataannya ada orang yang imannya baik tetapi perilakunya belum baik, ada yang perilakunya sudah baik tetapi tidak punya iman sama sekali atau punya tetapi hanya untuk formal saja (tidak punya Tuhan, tidak punya kitab suci yang baik). Sehingga jika ada yang belum ideal yang dibenahi bukan kitab sucinya, melainkan perilakunya. Dalam pikiran dan keyakinan saya bahwa Tuhan tidak pernah salah, termasuk tidak pernah salah dalam membuat Kitab Suci-Nya, maka perilaku kitalah yang wajib dibenahi. Hidup adalah ujian dalam segala keadaan, dan Allah akan melihat siapa diantara kita yang “paling baik” dalam menghadapinya.

Agam bin Iman-Takhafal : Mohon maaf, apakah kamu telah hafal tentang Kitab Sucimu ? (Periba bin Human-Perila turut mendengar pertanyaan tersebut sambil mengangguk-angguk)

Agam bin Iman-Hafal : Belum semuanya, tapi saya sedang berupaya ke arah sana (hafal seluruhnya). Itulah perilaku saya yang masih harus diperbaiki, tapi bukan terhadap Kitab Suci yang saya yakini, dan teman seagama saya sudah banyak yang hafal, maka saya juga (1) harus bisa menghafal, (2) harus mengerti maknanya dan (3) harus bisa mengimplementasikan ajaran-Nya dalam hidup sehari-hari.

Periba bin Human-Perila : Bisa nggak ya saya menghafalkan semua peribahasa yang saya yakini benar selama ini ? (Bergumam dalam hati). Demikian pula dengan mas Agam bin Iman-Takhafal “kitab suci bahasa yang mana ya yang harus saya hafalkan ?”.

Tanpa terasa diskusi berjalan begitu panjang, dan karena masing-masing masih punya urusan penting bagi pekerjaan dan keluarganya, maka mereka bersepakat menyudahi dulu, dan saling berjanji bisa meneruskannya di kesempatan lain.

Yogyakarta, Sabtu, 13 Juli 2013

Teguh Sunaryo

M : 085 643 383838

Categories: Artikel | Leave a comment

Neraka, Surga dan Tuhan

Ada tiga orang berdebat membicarakan tentang Neraka, Surga dan Tuhan. Si Abang benar-benar anti Neraka, Si Human sungguh-sungguh anti Tuhan dan Si Agam ikhlas percaya adanya Tuhan. Berikut ini dialog yang mengarah ke perdebatan yang panas itu. (Semoga jika suatu saat kita berdiskusi bisa santun busananya, santun nada suaranya, juga santun isi kata-katanya…aamiin).

Abang : Ya, saya tidak percaya adanya Neraka.

Human : Terserah, kalau saya tidak percaya adanya Tuhan. Mestinya kalau anda tidak percaya adanya Neraka Sekaligus tidak percaya adanya Surga dong ?

Abang : Bukan begitu, Tuhan itu kan Maha Baik. Karena ia Maha Baik maka Dia tidak akan pernah menciptakan yang jelek untuk umat-Nya. Jadi Neraka tidak ada dan hanya Surga yang ada.

Human : Lha kalau Tuhan itu Maha baik mengapa menciptakan orang jahat ? dan faktanya orang jahat itu ada. Nah, lantas rumahnya orang jahat itu dimana kalau tidak ada Neraka ?

Abang : Rumah orang jahat ya hanya di Dunia saja, tidak ada rumah bagi orang jahat di Akhirat. Kamu sendiri mengapa tidak percaya adanya Tuhan ?

Human : Karena saya belum pernah melhat Tuhan dan saya tidak tahu bagaimana bentuknya. Sehingga saya tidak percaya adanya Neraka maupun adanya Surga, termasuk tidak percaya adanya Tuhan. Bagi saya hidup ini hanya di Dunia saja, setelah kita mati selesai semuanya.

Abang : Lha, kalau sudah mati semuanya selesai lantas dimana letaknya pertanggungjawaban hidup atas perilaku anda selama hidup di Dunia ini ?

Human : Pertanggungjawaban hidup hanya ada di Dunia saja. Kalau kita baik maka orang lain akan baik kepada kita, dan kalau kita jahat maka orang lain akan jahat kepada kita.

Abang : Tetapi kenyataannya ada orang baik dibunuh oleh orang jahat, itu bagaimana ? Berarti pernyataan anda bahwa orang baik akan dibalas kebaikan oleh orang lain tidak terbukti ?

Human :  Ya, itu Takdir bagi si baik, tetapi saya yakin bahwa penjahatnya pun akan di bunuh oleh penjahat berikutnya.

Abang : Lha, kalau kamu tidak percaya adanya Neraka, Surga dan Tuhan, mengapa kamu percaya adanya Takdir ?

Human : (Terdiam, merenungkan akan keyakinannya selama ini). Tapi kamu juga belum menjawab mengapa rumah orang jahat tidak ada di Akhirat ? Lantas Kitab Suci apa yang mengajarkan tentang ajaran bahwa Surga ada tetapi Neraka tidak ada ?

Abang : Itu keyakinanku, tidak ada Kitab Sucinya.

Human : Kalu begitu itu bukan agama, tetapi hanya sebatas kepercayaan. Jika seperti itu pendapatmu lebih baik jangan tanggung-tanggung. Surga itu istilah yang lahir dari dogma agama tertentu. Setahu saya selain dogma agama tidak ada istilah Surga dan Neraka, tetapi kamu aneh (tidak konsisten) tidak mengakui agama kok percaya adanya Surga di Akhirat ?

Abang : (Terdiam, merenungkan akan keyakinannya selama ini). Tidak apa-apa, bukankah inti agama itu keyakinan, dan saya memilih percaya akan adanya surga (saja) itu juga merupakan keyakinan, dan keyakinan setiap orang kan tidak harus sama, wong tebal tipisnya iman seseorang juga tidak ada yang sama.

Agam : Kalau saya ikhlas percaya kepada semuanya, ya percaya adanya Neraka, percaya adanya Surga dan percaya adanya Tuhan yang Maha Perkasa.

Abang : Tuhan kok tega, menciptakan Neraka untuk umat-Nya ?

Agam : Ya, sama teganya dengan umat-Nya itu. Ia (umat-Nya) kok juga tega tidak taat pada Tuhannya yang telah menciptakannya? Nah jadi adilkan ?

Human : Jika Tuhan adil, mengapa ia masih saja menciptakan umat yang miskin, kaya, pintar dan bodoh ?

Agam : Oh tidak begitu, Tuhan menciptakan manusia itu dalam kondisi sama, yaitu sama-sama suci (fitri). Saat lahir sama-sama hanya bisa menangis, tidak bisa berdiri, belum bisa bicara dan belum bisa mandiri seperti saat ia dewasa.

Abang : Tetapi mengapa ada yang terlahir buta, tuli dan lumpuh ? Sementara yang lainnya sehat sempurna ?

Agam : Dalam agama kami, diajarkan dan diyakini bahwa kesempurnaan manusia itu berada dalam keterbatasannya. Maksudnya adalah bahwa orang yang “sempurna” menurut ajaran agama kami adalah terletak kepada perilakunya (iman dan takwa) bukan kepada bentuk fisiknya misalnya tampan, cantik, kaya harta, dan kaya benda. Yang Maha Sempurna hanyalah Allah, bukan malikat, Nabi juga bukan manusia seperti kita termasuk bukan anda dan bukan saya. Kekayaan harta benda, ketampanan rupa kita tidaklah abadi, ia akan hilang sebelum kita meninggal dunia. Harta tidak akan bermanfaat buat si pemiliknya jika ia sudah tua renta dan tidak bisa mengkonsumsi apa-apa. Kulit dan kecantikan kita akan pudar keriput, badan menjadi bungkuk saat kita tua renta. Apalagi saat kita meninggal dunia, sekedar bergerak saja sudah tidak bisa, bicara tidak kuasa, dan mempengaruhi siapa-siapa tidak ada kesempatannya.

Human : Saya masih belum bisa menerima.

Agam : Wow, memang tidak wajib menerima, karena daya pikir dan daya tangkap seseorang berbeda-beda dan tempatnya kelak juga berbeda-beda .

Human : Jadi kamu menganggap saya bodoh, kamu menganggap saya akan masuk ke Neraka ? (disetujui oleh si Abang)

Agam : Saya tidak mengatakannya demikian, itu hanya persepsi anda saja. Lha bukankah anda berdua tidak percaya adanya Neraka ? Mengapa anda mesti takut terhadap sesuatu yang menurut anda tidak ada ?

Abang : Berarti Tuhan tidak adil, karena menciptakan orang yang daya pikirnya dan daya tangkapnya berbeda-beda ?

Agam : Sangat adil, karena Tuhan tidak membutuhkan kecerdasan seseorang dan tidak membutuhkan ketampanan seseorang serta tidak membutuhkan kekayaan dan pangkat seseorang. Tuhan dalam ajaran agama kami hanyalah membutuhkan keikhlasan kita, yaitu ikhlas untuk menerima agama-Nya agar kita tidak tersesat dan senantiasa menyembah-Nya dan memperlakukan baik bagi sesama makhluk.

Human : Bisa tidak, Tuhan menciptakan manusia yang tidak miskin, tidak susah dan bahagia semua ?

Agam : Sangat bisa, makanya dalam ajaran agama kami, dinyatkan bahwa kebahagiaan (kesempurnaan) itu letaknya diperilaku kita (iman dan takwa) yaitu ikhlas menerima agama-Nya. Apapaun manusianya pada level apapun keberadaannya, jika ia kurang ikhlas menerima kenyataan hidup, maka hidupnya tidak akan bahagia. Jadi orang yang tidak bahagia adalah orang yang tidak mau bersyukur (tidak ikhlas) kepada Sang Maha Pencipta. Dalam agama kami, kekayaan, kecerdasan, dan pangkat, tidak dijadikan prinsip yang utama sebagai ukuran kesempurnaan dan kebahagiaan, tetapi terletak kepada “kebaikan perilakunya”.

Human : Ya sudah ciptakan saja semua orang sama baiknya ?

Agam : Sudah, Pertama, semua orang saat terlahir ia fitri (suci), menjadi miskin karena perbuatannya sendiri, ia malas, tidak tekun, tidak rajin, tidak ulet, tidak bisa bekerjasama, tidak beriman kepada Allah. Menjadi menderita karena ia tidak bisa menjaga pola hidupnya, ia selalu begadang sampai larut pagi, ia makan tidak teratur dan makan barang yang tidak halal, ia serakah melampaui batas, ia keras kepala dan tidak bisa ikhlas melihat kenyataan, dan ia tidak menyerahkannya pada Tuhan Yang Abadi yaitu Allah. Kedua, kebaikan dalam agama kami adalah perilaku bagi sesama, tetapi diantara manusuia sendiri ada yang menolaknya, termasuk menolak ajaran agama-Nya.

Abang : Ah, kamu Cuma mbulat-mbulat saja ngomongnya ! Cuma ngomong doang tidak bisa membuktikan !

Agam : Kewajiban saya hanya menyampaikan, jika anda tidak berkenan tidak masalah bagi kami, justru itu masalah bagi kamu sendiri, silahkan memilih “bagiku agamaku dan bagimu agamamu”. Sehingga tugas saya memang hanya syiar (ngomong doang) yang membuktikan adalah perilaku kita masing-masing dan kebesaran Tuhan. Jadi saran saya, jangan percaya pada omongan saya saja tetapi akan saya buktikan pada perilaku saya sehari-hari, termasuk saya tidak akan membenci anda walau beda kayakinannya. Dan saya akan senang walau anda tidak percaya dengan omongan saya tetapi percaya pada Allah sang Maha Kuasa. Apakah anda akan membenci saya karena saya hanya bisa ngomong doang dan hanya memberi saran belaka ?

Human : Ya kalau cuma ngomong doang percuma !

Agam : Dalam agama kami tidak ada yang sia-sia. Yang baik (iman dan takwa) akan masuk ke Surga dan yang jahat (kafir dan munafik) akan masuk ke Neraka. Orang jahat adalah ujian kesabaran bagi orang baik untuk melakukan syiar agama, dan orang baik adalah sumber alternative pilihan hidup bagi orang yang jahat. Semua bebas memilih yang berbeda adalah konsekuensi dan tanggungjawabnya.

Abang : Apa nasihat anda buat kami (buat Abang dan Human yang ada disampingnya) ?

Agam : Hidup jangan egois, jangan menggunakan aturan yang dibuat oleh kita sendiri, nanti pasti berbenturan oleh aturan orang lain. Apalagi aturan yang kita buat tidak tertulis, dan belum disepakati oleh semua orang yang ada di sekitar kita, maka tinggal menuai kekacauannya.

Human : Lha, sekarang ada agama juga masih kacau ?

Agam : Iya, karena agamanya masih berbeda-beda, kita tidak menerima agama yang sama, yang Tuhannya sama dan Kitab Sucinya sama, jadi parameter dan aturan mainnya berbeda pula.

Abang : Mengapa Allah tidak membuat agama yang sama ?

Agam : Sudah, cuma ada umat yang lain yang memalsukannya.

Human : Umat yang mana ?

Agam : Ya, kalau saya jawab nanti kita malah berdebat tentang SARA, bukan tentang nilai atau substansi kebenarannya.

Abang : Bukankah dalam syiar agama itu harus jujur ?

Agam : Benar, tetapi bukan pada forum ini tempatnya.

Human : lantas tempatnya dimana ?

Agam : Ya, kita bertemu bertatap muka saling silaturahmi bergantian di antara rumah kita masing-masing, jangan ditempat terbuka seperti ini (diskusinya di Mall), nanti mengganggu orang lain yang tidak tertarik dengan diskusi ini. Untuk urusan yang baik sebaiknya dilakukan di tempat yang baik. Untuk urusan yang penting sebaiknya dilakukan di tempat yang tidak sembarangan, dan rumah kita masing-masing adalah sebuah tempat yang sangat penting bagi masa depan keluarga kita.

Human :  Tadi anda telah memberi saran kepada Abang yang hanya percaya adanya Surga saja, bagaiman saran anda kepada saya yang sama sekali tidak percaya adanya Tuhan ?

Agam : Ah…jangan merendah begitu dong bro…

Human : Sungguh tidak, saya benar-benar butuh informasi yang lengkap dari anda, agar jika saya menerima pendapat anda bisa menerima secara total dan apabila harus menolak juga menolak secara total, tidak tanggung-tanggung.

Agam : Sebagai informasi awal baiklah, tetapi sekali lagi informasi yang lengkap akan saya berikan saat kita saling bisa ikhlas bersilaturami bergantian di rumah kita masing-masing. Begini, hidup ini dihuni oleh banyak orang yang pikiran dan perilakunya berbeda-beda, suku bangsanya berbeda-beda, yang visi dan kepentingannya juga berbeda-beda, untuk itulah dibutuhkan aturan yang jelas, tertulis dan tidak berubah-ubah. Bagimana bisa dipercaya jika ada aturan kok tidak tertulis (lisan saja) dan atau tertulis tetapi berubah-ubah (ciptaan manusia belaka). Hidup adalah ketidak abadian maka harus diatur oleh Yang Maha Abadi, hidup penuh ketidak pastian maka peraturannya (atau “Kitab Sucinya”) haruslah lebih pasti (tidak pernah berubah sepanjang zaman), agar tidak menambah kerunyaman (ketiadakpastian yang sudah ada). Nah, bandingkan Kitab Suci agama apa,  yang menurut anda lebih sempurna ? Mana yang tertulis ? Mana diantara yang tertulis yang tetap dan tidak berubah sejak sejarah kelahirannya ? Tuhan Maha Sempurna maka menciptakan Kitab Suci-Nya pastilah sempurna, tidak direvisi karena kekeliruannya, atau karena tidak visioner dan tidak prediktif terhadap keadaan sepanjang zaman kehidupan. Tanda-tanda kesempurnaan Kitab Suci yang ada, sebenarnya bisa dibandingkan, dari aspek yang sangat sederhana sampai aspek yang sangat canggih yang membutuhkan pemikiran dan pemahaman yang lebih tinggi. Metodanya adalah : (1) Bandingkan antar Kitab Suci (2) Bandingkan antar umat (3) Simpulkan, jika ada kebaikan, maka letak kebaikannya terdapat pada Kitab Sucinya atau pada umatnya (pemeluknya). Dan jika ada keburukan, maka keburukan itu ada pada Kitab Sucinya atau kepada umatnya (pemeluknya). Dalam teori manajemen (hehe sambil tersenyum) dikatakan bahwa perbaikan dilakukan pada SDMnya (dalam aspek agama adalah keimanannya) dan sistemnya (dalam aspek agama adalah Kitab Sucinya), Dalam agama kami, keimanan itu kadarnya bisa naik-turun, maka dibutuhkan dakwah (syiar) untuk saling mengingatkan, dan dalam agama kami, Kitab Suci (dalam manajemen modern adalah sistemnya) tidak boleh goyah atau berubah.

Human : Kecenderungannya pada agama yang mana pak ?

Agam : Saya tidak akan katakan sekarang, kecuali saat kita nanti saling bersilaturahmi.

Mohon maaf jika tidak berkenan, semoga bermanfaat dan salam sukses selalu. Terimakasih.

Yogyakarta, Senin 8 Juli 2013

Oleh : Teguh Sunaryo

M : 085 643 383838

Categories: Artikel | Leave a comment

Mencari Allah ?

Mata tidak bisa melihat bentuk angin dan listrik yang nyata ada
Mata tidak kuasa menatap kuatnya pancaran terik sinar matahari
Tangan tidak bisa menangkap air dan angin yang membelai rambut kita
Kulit tidak mampu meraba aroma minyak wangi yang dikenakan setiap hari
Hidung tidak mampu menangkap sinar yang lewat di depan mata
Itu bukti bahwa indera ada batas kemampuannya

.

Semua ada peruntukannya

Semua ada spesialisasinya

Termasuk proses meyakini keberadaan-Nya

.

Mata untuk melihat benda bukan melihat Allah
Tangan untuk menangkap benda bukan menangkap Allah
Kulit untuk meraba benda bukan meraba Allah
Hidung untuk mencium aroma bukan mencium  Allah
Itu bukti bahwa indera kita tetap terbatas kemampuannya

.

Jangankan memegang Allah, memegang api saja kamu terbakar

Jangankan menyentuh Allah, menyentuh listrik saja kamu terkapar

Jangankan melawan Allah, melawan badai saja kamu terhujam

Jangankan mengendalikan Allah, mengendalikan usiamu saja kamu kewalahan

.

Dengan harimau saja kamu merinding, kok mau melawan Allah
Dengan gempa bumi saja kamu gemetar, kok mau melawan Allah
Dengan kematian orangtuamu saja kamu menangis, kok mau melawan Allah

.

Mencari jarum yang hilang di laut saja kamu tidak mampu, kok mau mencari Allah

Menetapkan visi masa depan saja masih kebingunan, kok mau mendefinisikan Allah

Berjalan mengelilingi planet bumi saja belum mampu, kok mau menantang Allah

.

Allah ampunilah hamba-Mu yang lemah tetapi sombong
Allah maafkanlah hamba-Mu yang bodoh namun merasa pandai
Allah tolonglah hamba-Mu yang sa’at sehat dia congkak tetapi sa’at sakit dia merintih

.

Ya Allah tunjukkanlah kami ke jalan yang benar bukan jalan yang sesat

Ya Allah berilah kekuatan dan kemudahan untuk melalui kehidupan ini agar aku bermanfaat bagi sesama

Ya Allah aku berserah diri hanya kepada-Mu

Ya Allah ampuni dosaku dan berikanlah karunia-Mu dan ridha-Mu kepadaku serta orang-orang di sekitarku …aamiin.

Yogyakarta, Jumat, 5 Juli 2013

.

Teguh Sunaryo

.

M: 085 643 383838

Categories: Kultum | Leave a comment

Bandingkan, tandingkan dan sandingkan

Tiga kata yang hampir sama tetapi berbeda guna, hanya berbeda satu huruf di depan tetapi membawa konsekuensi dalam kehidupan. Jika salah penggunaan dan penerapannya, tidak menutup kemungkinan menjadi fatal dampaknya. Coba saja anda rasakan atau setidak-tidaknya anda bayangkan jika Orang besar dibandingkan dengan orang kecil, orang baik dibandingkan dengan orang jahat, orang kaya dibandingkan dengan orang miskin, orang cantik dibandingkan dengan orang jelek, pejabat dibandingkan dengan buruh kasar, bahkan khalik (pencipta) dibandingkan dengan makhluk (yang dicipta) ? Bagaimana kesan anda ? Bagaimana pendapat anda ? Bagaimana perasaan anda jika anda yang dibandingkan ? Tentu diantara kita akan berbeda-beda bukan ?

Terhadap perbandingan tersebut, jika anda bertanya kepada saya maka saya akan menjawab bahwa tidaak ada yang aneh bagi saya karena sangat jelas jawabannya atas hasil perbandingannya. Namun bagi yang belum jelas, maka kata perbandingan dalam kasus diatas adalah sebagai media pembelajaran yang dapat dipetik hikmahnya. Misal, saya pejabat kok dibandingkan dengan seorang buruh kasar ya tidak masalah, toh tidak ada yang berkurang bagi saya dan bagi orang yang dibandingkan dengan saya, apapun keadaannya (termasuk jika perannya dibalik seklipun) , sehingga tidak perlu tersinggung, yang menjadi masalah adalah jika saya ditandingkan dengan orang itu. Sedangkan yang lebih benar dan pas pada contoh itu adalah jika saya disandingkan dengan orang itu, saya pejabat dan dia buruh kasar, artinya seorang pejabat harus bisa membantu seorang buruh kasar itu, bukan untuk dibandingkan, apalagi ditandingkan.

Dari sedikit contoh tersebut bisa kita simpulkan bahwa :

  1. Kata “bandingkan’, bermanfaat untuk membedakan satu hal terhadap hal lainnya, sehigga terhadap hal yang sudah jelas perbedaannya tidak perlu lagi ada perbandingan dan tidak perlu ada yang dibandingkan. Namun bagi seseorang (apalagi bagi seorang anak) yang masih perlu belajar kosa kata atau belajar memahami sesutu yang baru bagi dirinya “membadingkan” adalah suatu proses dari suatu tahapan untuk mencari pengetahuan, sehingga bagi pihak yang dibandingkan apapun posisi dan keadaannya tidak perlu tersinggung.
  2. Kata “tandingkan’, mengandung pengertian bahwa sesuatu itu ada banyak kemiripannya atau keseimbangannya, sehingga untuk memastikan mana yang memiliki “nilai lebih” sangat sulit diukur, untuk itulah perlu adanya “tandingkan’ (pertandingan). Jika sesuatu itu sudah jelas kalah dan menangnya tidak lagi perlu ada pertandingan.
  3. Kata “sandingkan”, mengandung pengertian bahwa ada kedua hal yang jelas-jelas sangat berbeda namun bisa saling mengisi atas perbedaannya itu, dan bukan untuk saling meniadakan.

Dari defisnisi yang sederhana tersebutlah namapknya kita akan menemukan jalan (cara) untuk menjawab beberapa pertanyaan yang muncul akibat adanya perbandingan. Mari kita telusuri satu demi satu :

  1. Orang besar dengan orang kecil : 1) Tidak layak dibandingkan karena sudah jelas ukurannya, tetapi bagi yang sedang belajar atau masih ingin tahu mengapa yang satu disebut besar dan yang lain disebut kecil maka sangat dibolehkan. 2) Terlebih untuk ditandingkan, apapun alasannya sangat tidak layak atau tidak manusiawi. Karena tidak layak dan tidak manusiawai maka antara orang besar dan orang kecil tidak boleh ditandingkan. 3) Masih memungkinkan untuk disandingkan, terutama jika orang besar yang dimaksud tidak menghilangkan (tidak kanibal) terhadap eksistensi orang kecil yang dimaksud. Terhadap kasus orang cantik dengan orang jelek, orang baik dan orang jahat, pun berlaku cara (metoda) yang sama, yaitu tidak layak bagi yang sudah tahu dan layak bagi yang sedang belajar, tidak boleh, dan memungkinkan.
  2. Sedangkan untuk Khalik dan Makhluk tidak berlaku untuk ketiganya. Khalik dan makhluk tidak bisa dibandingkan dan tidak boleh ditandingkan, karena sudah sangat jelas perbedaanya. Karena sudah sangat jelas perbedaannya buat apa antara khalik dan makhluk dibandingkan ? Apalagi untuk dipertandingkan, sudah sangat jelas Khalik-lah segala-galanya.  Kemudian pertanyaan yang bersisa bisakah Khalik dan makhluk disandingkan ? Itupun bagi saya tidak bisa, karena manusia sebagai makhluk tidak punya kekuatan untuk menyandingkannya.

Hikmah :

Mari berhati-hati dan cermatlah dalam menggunakan kata “bandingkan”, ‘tandingkan” dan “sandingkan”, jangan mudah membuat orang lain tersinggung dan jangan mudah menjadi tersinggung karena sekedar ulau atau pendapat orang lain, namun dari cara menggunakan ketiga kata tersebut, seseorang bisa dilihat level keilmuannya dan kearifannya. Semoga bermanfaat.

—————————————————————————————

Terimakasih anda telah berteman dengan kami
—————————————————————————————
Blog Pribadi saya :
  1. http://teguhsunaryo.blogspot.com
  2. http://keluargateguhsunaryo.wordpress.com
  3. http://kultumramadhan.blogspot.com
  4. http://kiatsuksesunas.wordpress.com
Salam dari Yogyakarta,
Teguh Sunaryo
HP : 085 643 383838
E-Mail : teguh@dmiprimagama.com

—————————————————————————————

Categories: Artikel | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.